Kota Bandung, hu-pakuan.com - Upaya memperkuat kesehatan keluarga dan mencegah stunting di Kota Bandung terus dilakukan dengan mengoptimalkan berbagai program yang telah berjalan di tengah masyarakat. Salah satunya melalui Karasa, inovasi yang mengintegrasikan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) agar dapat saling mendukung dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi warga.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung, Anhar Hadian, SKM, M.Tr.A.P., dalam SONATA Talkshow bertema “Karasa dan Dashat: Bergerak Bersama Wujudkan Keluarga Sehat”, Selasa, 15 September 2026.
Anhar menjelaskan, Karasa menggabungkan tiga program yang selama ini telah berkembang di masyarakat. Kang Pisman bergerak dalam pengelolaan sampah, Buruan Sae mendorong ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan atau pekarangan, sementara Dashat berfokus pada penyediaan makanan bergizi sekaligus edukasi kepada keluarga.
“Dari namanya saja sudah kelihatan ada tiga unsur. Kang Pisman dan Buruan Sae sudah cukup tenar di Bandung. Hampir di tiap RW di Kota Bandung minimal ada satu keluarga atau kelompok yang menjalankan Kang Pisman ataupun Buruan Sae,” jelas Anhar.
Menurutnya, ketiga program tersebut memiliki fokus berbeda, tetapi dapat saling mendukung. Pengelolaan sampah melalui Kang Pisman menghasilkan berbagai produk yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan Buruan Sae. Sementara hasil dari Buruan Sae dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam pelaksanaan Dashat.
“Semua dikelola oleh masyarakat dan memberikan kontribusi nyata sesuai bidangnya masing-masing. Kang Pisman dalam hal pengelolaan sampah, Buruan Sae meningkatkan ketahanan pangan warga dengan memanfaatkan buruan atau halaman,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan stunting di Kota Bandung. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2024 yang disampaikan dalam talkshow, angka stunting di Kota Bandung tercatat sebesar 22,4 persen.
Anhar mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan berbagai program yang sudah berjalan di masyarakat. Pemerintah tidak harus selalu membuat program baru, tetapi dapat mengoptimalkan potensi yang sudah ada.
“Artinya kita punya masalah dengan stunting. Pak Wali melihat persoalan ini dan ingin memanfaatkan semua potensi di masyarakat yang selama ini sudah berjalan. Tidak perlu membuat inovasi-inovasi baru kemudian melupakan yang sudah lama, tetapi lebih baik menguatkan yang sudah ada,” ungkapnya.
Sementara itu, Dashat merupakan program yang digagas BKKBN dan telah berjalan sekitar tiga tahun di Kota Bandung. Program ini berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dalam pengelolaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami masalah gizi maupun yang berisiko mengalami stunting.
“Dashat itu tugasnya memasak makanan-makanan bergizi untuk balita yang bermasalah gizi atau yang dikhawatirkan menjadi stunting. Tetapi selain memasak dan mendistribusikan makanan, juga melakukan edukasi kepada keluarga,” katanya.
Melalui Karasa, hasil Buruan Sae diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk kebutuhan Dashat. Di sisi lain, produk Kang Pisman seperti kompos, maggot, dan pupuk organik dapat digunakan untuk mendukung kegiatan Buruan Sae.
“Produk-produk Kang Pisman itu prioritasnya untuk Buruan Sae. Kemudian produk Buruan Sae dipakai oleh Dashat. Jadi kita ingin mengawinkan program-program ini supaya manfaatnya semakin besar,” tuturnya.
Pelaksanaan Karasa saat ini masih berada dalam tahap pengembangan. Pemerintah Kota Bandung telah melakukan pilot project di tiga kelurahan dan terus melakukan koordinasi dengan perangkat daerah terkait.
DPPKB juga tengah mempersiapkan Aplikasi Karasa yang nantinya digunakan sebagai sarana pelaporan dan monitoring program.
“Sekarang kita sudah melakukan pilot project di tiga kelurahan. Kemudian kita sedang mempersiapkan aplikasi untuk pelaporan Karasa. Aplikasi ini insyaallah menjadi alat monitoring yang efektif untuk melihat keberhasilan Karasa di sebuah daerah,” jelas Anhar.
Aplikasi tersebut ditargetkan dapat disebarluaskan ke seluruh kelurahan di Kota Bandung sehingga pelaksanaan dan perkembangan program dapat dipantau secara lebih optimal.
Dalam pelaksanaannya, Karasa mengandalkan kelompok masyarakat sebagai penggerak utama. Dapur sehat dapat memanfaatkan rumah warga, fasilitas masyarakat, maupun bangunan yang tidak digunakan.
Kelompok pengelola umumnya terdiri dari sedikitnya 10 orang yang terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari pengadaan bahan, pengolahan, memasak, hingga pendistribusian makanan.
Untuk pemberian PMT, menu yang diberikan kepada balita tidak dibuat secara sembarangan. Menu ditentukan berdasarkan arahan ahli gizi dari Puskesmas agar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Saat ini terdapat 151 Dashat yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Bandung. Jumlah tersebut masih dapat bertambah di wilayah yang memiliki cakupan penerima manfaat lebih banyak.
“PMT itu Pemberian Makanan Tambahan, yaitu makanan tambahan untuk balita yang mempunyai masalah gizi. Menunya ditentukan oleh Puskesmas, oleh ahli gizi, jadi tidak sembarangan boleh memasak,” jelasnya.
Dukungan terhadap PMT juga berasal dari berbagai pihak, termasuk perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Anhar menegaskan, peran Dashat tidak berhenti pada penyediaan makanan bergizi. Edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting karena pemenuhan gizi anak juga berkaitan dengan pola makan dan pola asuh di dalam keluarga.
“Yang lebih penting lagi adalah mengedukasi masyarakat terkait pola asuh kepada anak-anaknya. Bisa jadi banyak orang tua di Kota Bandung yang tidak punya kemampuan memberikan makanan bergizi kepada anak, dan ini bukan selalu masalah ekonomi,” katanya.
Menurutnya, masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode penting dalam tumbuh kembang anak. Karena itu, orang tua perlu memiliki pengetahuan mengenai makanan bergizi dan pola asuh yang tepat sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Golden period itu sebenarnya 1.000 HPK, sejak awal kandungan hingga anak umur dua tahun. Kalau itu terlewat, tentu sangat disayangkan,” tuturnya.
Selain pemenuhan gizi, pola komunikasi antara kader dan orang tua juga menjadi tantangan dalam memberikan edukasi. Perbedaan karakter dan cara menerima informasi antargenerasi membuat pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan.
“Pola komunikasi itu menjadi tantangan yang seru dan luar biasa. Kader harus memahami kondisi psikologis orang tua supaya edukasi yang diberikan bisa diterima dengan baik,” pungkas Anhar.
Melalui Karasa, Pemerintah Kota Bandung berharap Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dashat dapat bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, pemenuhan gizi, serta edukasi keluarga sebagai bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan keluarga sehat dan menekan angka stunting di Kota Bandung.
Editor: Rizki