Ir.Yayan Suherlan : Persatuan dan Kesatuan Kunci Keberhasilan Ketika Titik Covid-19 Meruncing

Ir.Yayan Suherlan : Persatuan dan Kesatuan Kunci Keberhasilan Ketika Titik Covid-19 Meruncing Ketua MPC PP Kota Bandung Ir Yayan Suherlan Bersama Ketua Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Nasional Letnan Jenderal TNI Doni Monardo

( PAKUAN )

www.hu-pakuan.com Kota bandung, -  Wabah virus corona baru atau COVID-19 menjadi momok bagi seluruh masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia, hingga kini masih menjadi momok menakutkan bagi banyak orang bahkan belum dapat dipastikan kapan pandemi virus corona akan berakhir. Sejak kasus pertama pasien positif korona di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), seakan masyarakat Indonesia mulai mengalami ketakutan seperti yang dirasakan masyarakat di belahan dunia lainnya. Setiap hari jumlah pasien positif korona terus bertambah sampai akhirnya pemerintah mengimbau sekolah dan universitas melakukan pembelajaran jarak jauh secara online, menutup sementara tempat-tempat rekreasi.

Imbauan Presiden terkait korona salah satunya kerja dilakukan dari rumah untuk meminimalisir penyebaran virus ini. Melakukan berbagai aktifitas dari rumah, mengurangi kegiatan diluar rumah, menunda sementara acara dan kegiatan bersifat berkumpul dengan banyak orang. Bahkan kegiatan rutin keagamaan dan adat diberhentikan untuk sementara waktu dalam mengatasi penyebaran virus dimasyarakat.

Kendati demikian, kebijakan yang diambil ini masih mengundang reaksi pro dan kontra di masyarakat. Untuk itu, berhenti berpolemik soal penanganan Covid 19, terutama di media sosial. Saat ini bukan saat yang tepat untuk saling menghujat, menjatuhkan dan melibatkan politik dalam bencana ini apalagi dapat dipastikan dampak dari Covid 19 ini bisa meluas bukan hanya berdampak pada segi kesehatan saja tapi politik, sosial, ekonomi, dan budaya pun bisa terdampak lebih parah.

Persoalan yang paling mendasar sekaligus cikal bakal terjadi polemik tidak lepas dari statement dan janji-janji pemimpin yang manis, namun pahit dalam implementasi. Bahkan ketika ditagih, 1001 alasan dilontarkan untuk menghindari kewajiban menepatinya. Perilaku pemimpin seperti ini, memicu lahirnya ketidakpuasan di masyarakat. Masyarakat menjadi tidak percaya kepada pemerintah. Sementara pemerintah seakan tak peduli kepada masyarakat, dengan tetap menjalankan program meski tidak sesuai aspirasi masyarakat.

Maraknya aksi demontrasi merupakan menunjukan tidak efektifnya kanal aspirasi dan wujud kekecewaan masyarakat terhadap program yang tidak aspiratif, Era demokrasi, selain memberikan efek positif terhadap kebebasan dan kesetaraan hak, juga menunjukan dimensi negatifnya. Demokrasi menjadi panggung adu kekuatan, pemerintah vs masyarakat, masyarakat vs masyarakat. Mari kita teladani Seorang Rosululloh yang memiliki wawasan berpikir hebat dan luar biasa, bahkan para sahabatnya dipastikan tidak bisa mengimbangi kejeniusan beliau, tetap saja senantiasa mengedepankan Musyawarah dalam setiap mengambil keputusan.

Persatuan dan kesatuan berada dititik nadir, ketika kondisi ini terus meruncing.Tidak tampak adu gagasan, yang terjadi adalah saling serang dan melemahkan. Masyarakat seperti diadu domba. Masyarakat terbelah dan saling berhadapan,".

Kondisi tersebut, seringkali berkepanjangan di masyarakat. Kendati masalah telah usai, namun perbedaan telah melahirkan 'aku vs kau', 'kamu vs kami'. Sementara 'kita' tersingkirkan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Indonesia sejatinya ada karena kita, bukan karena 'kamu' atau 'kami', terlebih 'aku' apalagi 'kau'," terang Ketua MPC PP Kota Bandung Ir.Yayan Suherlan.

Kondisi tersebut, dapat diidentifikasi dari sikap pemimpin dalam memutuskan kebijakan. Seringkali seorang pemimpin hanya mengakomodir kepentingan kelompoknya. Padahal, ketika menjadi pemimpin, maka dia tidak lagi milik kelompoknya. Pemimpin kehilangan sense of crisis dalam menyikapi perbedaan dan kurang peka terhadap kritik dari masyarakat. "Harusnya pemerintah lebih memiliki sence of crisis, dan mengoptimalkan komunikasi untuk mencapai win win solution dalam menghadapi berbagai persoalan. Solusi dalam setiap persoalan, kurang memperlihatkan keadilan. Tidak saja kepada manusia, tetapi juga pada kondisi alam dan lingkungan.

Menyikapi kondisi tersebut, Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kota Bandung berkomitmen untuk berperan aktif dan produktif dalam setiap upaya menyelesaikan setiap persoalan di Kota Bandung. Sebagai salah satu ormas dengan basis massa yang cukup besar, saya ingin menampilkan Pemuda Pancasila Kota Bandung lebih santun, menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan akhlak mulia. Sehingga dapt merubah imaje bahwa pemuda pancasila kota Bandung tidak hanya kuat otot dan kuantitas anggotanya yang banyak tetapi didukung juga oleh kualitas dalam setiap kiprah dan langkah perjuangannya.

"Untuk itu Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila kota Bandung siap menjadi partner sekaligus mitra pembangunan yang tidak hanya mampu dan gagah dalam kuantitas tapi juga kualitas," ujarnya.

Dengan segala keterbatasan upaya yang dilakukan Majelis Pimpinan Cabang Pemuda pancasila Kota Bandung diantaranya melakukan penyuluhan-penyuluhanan terkait Covid 19 karena ketidaktahuan dan keterbatasan wawasanlah covid 19 menjadi sangat berbahaya, penyemprotan, pembagian desinfektan dan masker secara gratis, pemberian bantuan dalam bentuk sembako, program pengamana lingkungan, program penyuluhan dan pelaksanaan program ketahanan pangan serta program2 lainnya meski sejujurnya program tersebut seperti menabur garam di lautan.

Harapan terbesar kita mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melaksanakan Program Dapur Umum ditingkat basis yang melibatkan masyarakat dengan pertimbangan sebagai berikut :

1. Bantuan pemerintah merata dan tidak berfihak apalagi dalam menghadapi Covid 19 ini memakai istilah perang.

2. Bantuan akan lebih effektip dan effisien karena dikelola oleh Dapur Umum yg melibatkan masyarakat ditingkat basis.

3. Masyarakat yg lebih mampu akan lebih respect memberikan bantuan karena jelas Dapur Umumnya di depan mata.

4. Para petani dan pengebun akan lebih diuntungkan karena bisa memasok Dapur Umum, bukan malah menguntungkan para saudagar/bandar sembako.

5. Kelemahan pendataan masyarakat terdampak yang selama ini sudah menjadi rahasia umum sudah tidak menjadi masalah lagi dengan adanya keterlibatan masyarakat ditingkat basis.

6. yang terpenting dari semua point di atas Dapur Umum di tingkat basis bisa dijadikan posko pendataan penyebaran Covid 19 karena basislah yang lebih tahu kemana dan darimana orang beraktifitas.

Editor: iboy

Komentar