Ir YAYAN SUHERLAN : Peran Masyarakat Hadapi Persoalan Bangsa

Ir YAYAN SUHERLAN : Peran Masyarakat Hadapi Persoalan Bangsa

Apa sesungguhnya yang menjadi persoalan Bangsa saat ini?

Perjalanan kehidupan bangsa Indonesia ditengah arus globalisasi saat ini saling melemahkan semua sendi-sendi kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk itu perlu disikapi dengan sebuah nilai-nilai kearifan-kearifan lokal yang hanya dimiliki oleh masyarakat-masyarakat adat yang sudah barang tentu yang dimaksud dengan Adat disini bukan entitas tapi sebuah nilai dengan kata lain Adat ini adalah Akhlak.

Rakyat tampaknya kurang diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya, apalagi pendapatnya itu diakomodir, direalisasikan, dilaksanakan, dan diwujudkan menjadi sebuah kenyataan yang dirasakan secara langsung oleh seluruh masyarakat.

Sepintas hal di atas sepertinya tidak berdasar, karena pemerintah merasa sudah berfihak kepada Rakyat dengan alokasi anggaran yang besar, dengan banyak kucuran dana melalui perbankan dan berbagai program yang didukung oleh pemerintah, intinya pemerintah merasa tidak tinggal diam, pemerintah merasa bekerja, pemerintah merasa sudah merespon apa yang diinginkan Rakyat.

Apakah benar demikian?

Dilihat dari perspektif kebangsaan, apa yang dilakukan Pemerintah, eksekutif dan legislatif dengan berbagai kebijakan, program, alokasi dana, pemihakan, tampaknya tidak menjawab kebutuhan yang sesungguhnya dibutuhkan Rakyat saat ini. Semua pihak dari sisi pemerintah mengasumsikan yang dibutuhkan Rakyat adalah sebagaimana yang diusulkan dalam setiap alokasi anggaran pertahun, seolah-olah kebijakan Pemerintah terhadap Rakyat telah dapat menyelesaikan kebutuhan dasar Rakyat.

Namun faktanya sampai hari ini apa yang tadi sudah keynote sampaikan dengan jelas dan gamblang tidak bisa terbantahkan, Atas nama lndustri padahal fakta sesungguhnya adalah Pabrikasi dengan mengorbankan lahan-lahan produktif sehingga berdampak pada hancurnya ketahanan pangan apakah Wifi bisa menyelesaikan persoalan?, itu baru dari satu conto. ditambah lagi dengan eforia revolusi 4.0 seperti yang telah keynote sampaikan tadi, apa bangs?! ini tidak semakin terjebak dan tenggelam dalam pusaran kebijakan institusi global?. dimana posisi kita saat revolusi 1.0, 2.0, 3.0 ???

apa itu bukan bukti kegagalan Pemerintah memahami apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Rakyat???, mari kita renungkan bersama dan jawab dengan hati nurani kita masing-masing.

faktanya dampak paket-paket kebijakan institusi global sangat melemahkan sendi-sendi kemanusiaan, kesenjangan terjadi antara negara maju dan negara berkembang apalagi negara miskin. Negara-negara berkembang dan miskin sama sekali tidak memiliki posisi tawar yang cukup untuk keluar dari proteksi­proteksi dan standar-standar yang bahkan cenderung mempengaruhi kehidupan masyarakat dan kehidupan kemanusiaan, dimana sebagian besar masyarakat di negara-negara berkembang dan miskin cenderung menjadi pasar perusahaan- perusahaan multinasional, menjadi pusat konsumsi dan ketergantungan terhadap produk-produk impor dari negara-negara maju. Perang saudara, konflik-konflik, perdagangan senjata, perdagangan narkoba terjadi di berbagai negara berkembang dan miskin, sehingga fokus mereka terpecah, tidak sempat membangun, memperbaiki, bahkan sendi-sendi kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara pun porak poranda.

Melihat dan memahami cara bermain sebagai sebuah bangsa, tampaknya kita perlu kembali merujuk apa yang telah dilakukan oleh para pendiri bangsa Indonesia di awal kemerdekaan. Mereka dengan kompak melakukan pelbagai permainan yang merespon kepentingan dunia luar, bukan seperti saat ini para elit bangsa memainkan anak Bangsa. Sudah saatnya, kita meninggalkan cara-cara kuno dalam membangun bangsa, sambil menumbuhkan kepercayaan bangsa itu sendiri kita kembali mencoba merumuskan sendi-sendi kekuatan bangsa Indonesia secara utuh, terutama untuk menghadapi tantangan-tantangan eksternal.

Sebagai masyarakat Sunda, Kita pasti mengenal betul istilah "bener", "bageur", "pinter", "cageur", "singer", Wanter".

BENER (Benar) itu terbukti, mengerti, dan terasa jadi Manusia BENAR itu tatkala dirinya mampu membuktikan, mengerti, dan bisa merasakan. dalam pembukaan UUD 45 alinea ke 4 terdapat satu kalimah yaitu MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA dimana KECERDASAN itu adalah mampu memikirkan hingga bisa mengartikan situasi tantangan yang dihadapi bukan ditelan bulat-bulat tanpa dipikirkan. tatkala pemahaman arti tantangan situasi tsb dimengerti oleh orang lain maka dari sinilahg akan timbul kesadaran kolektif untuk membuktikan sehingga hasilnya bisa dirasakan bersama2.

kalau BENER (Benar) sudah dapat dirasakan hasilnya selanjutnya isi dengan BAGEUR (Baik) dimana baik itu adalah sejalannya antara Pikiran dan Hati, tidak bertolak belakang.

Setelah BENER (Benar) dan BAGEUR (Baik) selanjutnya adalah PINTER (Pintar) dimana Pintar itu adalah mampu memikirkan semua tantangan yang ada sehingga dibuat menjadi sebuah kenyataan yang mengacu pada kebef]aran tadi. jadi bukan pintar dari buku tapi pintar karena mau belajar dari situasi tantangan yang ada dan menyelesaikan masalah2.

Setelah BENER (Benar), BAGEUR (Baik), PINTER (Pintar) untuk menyelesaikannya harus SINGER (Mawas Diri) dimana Singer itu adalah bekerja dengan sungguh2, tanpa pamrih, terintegrasi, dab berkesinambungan

Terakhir adalah WANTER dimana Wanter itu adalah berani tapi penuh dengan perhitungan, berani tampil kedepan karena BENER (Benar), BAGEUR (Baik), PINTER (Pintar), dan SINGER (Mawas Diri) sudah dijalankan. inilah yang sesungguhnya disebut dengan CAGEUR (Sehat), Sehat lahir Bathinya karena tidak cukup Sehat lahirnya saja. faktanya banyak yang sehat dan gagah lahirnya tapi tidak menjamin sehat bhatinya.

Solusi apa yang dibutuhkan?

sudah barang tentu dalam hal ini diperlukan kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa akan arti penting kesadaran kemanusiaan, diawali dengan pengertian Bahwa sesungguhnya manusia itu berasal dari satu dan untuk satu kesatuan, oleh karena itu setiap individu merupakan bagian dari yang lainnya dan merupakan sebuah kesatuan yang utuh, saling melengkapi dengan segenap kesadaran kemanusiaannya.

kenapa itu diperlukan? karena kesadaran kemanusiaan merupakan dasar gerak dari seluruh organ bangsa Indonesia dalam memulai sebuah potret Indonesia baru ke depan dimana pepatah mengatakan "untuk melihat masa lalu lihatlah kondisi sekarang, untuk melihat masa depan lihatlah apa yang kita lakukan sekarang.

Perjuangan untuk menegakkan harkat, derajat dan martabat kemanusiaan harus tetap menjadi komitmen kita bersama, sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai dasar ideologi masyarakat adat dan bangsa Indonesia.

Dengan semangat jiwa-jiwa yang suci, disertai budi pekerti yang luhur, masyarakat adat harus mampu membangun ruang budaya yang memberikan tempat bagi semua peradaban untuk hidup berdampingan secara damai, harmoni dan berkeadilan sosial.

sudah saatnya seluruh elemen bangsa membangun kesepahaman mengenai persoalan-persoalan bangsa Indonesia yang tengah dihadapi saat ini.

Rekonstruksi peran-peran strategis bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan-tantangan regional, nasional, dan internasional sehingga tidak terjebak dan semakin tenggelam dalam pusaran kebijakan institusi global yang berujung pada ekploitasi besar-besaran baik itu kekayaan alamnya maupun sumber daya manusianya.

dan yang terpenting, tidak boleh terlupakan sudah saatnya seluruh elemen bangsa memperkokoh kesalingpercayaan antar anak bangsa, sebagai pilar penting dalam upaya reposisi peran bangsa Indonesia ke depan.

Editor: redaksi

Komentar