BENJANG GULAT ASLI DARI TANAH SUNDA

BENJANG GULAT ASLI DARI TANAH SUNDA BENJANG GULAT HADIR DITANAH SUNDA SEJAK 200 TAHUN YANG SILAM

 BANDUNG (PAKUAN ) Tradisi, olahraga, dan atraksi membaur jadi satudi kesenian benjang. Permainan gulat dari tanah sunda.

Dua pebenjang (pegulat) sedang beraksi menjatuhkan lawannya

Siapa yang tidak kenal smackdown? Olahraga gulat dari western ini sempat populer di Indonesia. Demam smackdown menjangkiti anak muda. Nama seperti Big Show, The Rock, dan Undertaker jadi idola.
Televisi ramai menyiarkan sebelum distop karena menuai protes. Padahal Indonesia punya olahraga gulat sendiri. Gulat dari Indonesia itu bernama benjang.

Alat Berjuang
Benjang telah muncul sejak abad 18. Budaya gulat Eropa menginspirasi kelahiran benjang. Pada masa itu benjang kental dengan corak islami. “Ada tatabuhan yang berasal dari budaya islam,” kata peneliti benjang, Andang Segara.

Di era kemerdekaan benjang jadi alat perjuangan. Benjang jadi sarana terselubung latihan fisik para pejuang. “Ujung Berung adalah basis para pahlawan di kota Bandung” kata Andang. Tak heran Ujung Berung sebagai kota kelahiran benjang menjadi pusat para pejuang. Saat ini benjang menjadi seni atraksi yang menarik.

Menurut Andang rangkaian pertunjukan benjang dimulai dari benjang laran, topeng, dan gelut. Benjang laran jadi media informasi pada masyarakat bahwa akan ada event. Dilanjutkan dengan benjang topeng yang penuh nuansa magis. Kelakuan pemain benjang yang menggunakan topeng diluar nalar manusia. Andang menuturkan di suatu event pemain benjang bak kerasukan dengan menangkap ikan di kolam. “Pak Dada (walikota Bandung) sampai kaget dan bilang minta di kolam saya” kata Andang dengan mimik serius.

Atraksi ini ditutup oleh benjang gelut (gulat). Para pemain benjang bergulat beralas tanah. Tidak ada acara timbang badan. Maka pemain seberat 70 kg pun bisa melawan 50 kg. Para jawara desa ini ditempa karena kondisi semisal menimba air hingga mengangkut padi. Namun tak berarti bermain benjang tidak memiliki teknik. Teknik benjang terdiri dari nyentok (hentak kepala), dangkekan (piting), dan hapsay (ngagebot).

Ditelan Zaman
Benjang seperti budaya lokal lain harus bisa survive menahan gempuran budaya asing. Warga sunda sendiri kini mulai asing dengan benjang. “Saya baru mendengar benjang tapi saya belum lihat,” kata Ria Handayani, mahasiswi yang tinggal di ujung berung. “Benjang itu budaya tua sehingga kami yang lahir di zaman ini belum mengenal benjang” cetus Ria.

Rangga, mahasiswa fikom Unpad juga punya pendapat senada. “Mahasiswa yang bermain benjang sejak umur 5 tahun ini berpendapat “Ini karena pengaruh budaya dari luar, budaya sunda kurang diminati. Pergelaran benjang mulai berkurang” kata Rangga.

Namun menurut Andang eksistensi benjang kini justru menyebar. Tercatat ada 92 paguyuban benjang di Jawa Barat. “Kini benjang tidak hanya di ujung berung tapi juga di Sukabumi, Garut, dan Indramayu,” papar Andang. Tapi Andang mengakui eksistensi benjang redup di Ujung Berung karena kota ini kini jadi metropolis yang dihuni banyak warga pendatang. Bermain benjang terkadang didorong rasa iseng. Bermula dari mengikuti ajakan lingkungan sampai keterusan. Adin, ketua paguyuban benjang mekar jaya menggeluti benjang karena tradisi. Pria yang akrab disapa Mbah Adin ini mengungkapkan “Ini karena permintaan orang tua untuk menjaga tradisi”. Mbah Adin berhasil menjadi juara 2 dalam festival budaya Indonesia tahun 1988 di Taman Ismail Marzuki. “Abah membawakan tari topeng benjang di festival itu” kata Mbah Adin.

Andang menuturkan profesor Jepang pernah meneliti benjang. “Dia pake bahasa jepang, saya pake bahasa Indonesia” katanya sambil tertawa. Orang dari Inggris, Korea, dan Amerika juga bertandang ke Indonesia untuk mempelajari seni benjang. Nama benjang telah diangkat ke panggung internasional. Utusan budaya RI pernah keliling eropa menampilkan seni benjang. Maka ketimbang bermain smackdown yang terbukti memakan korban. Lebih bagus generasi muda bermain smackdown ala Indonesia. Ya, benjang! Main main jadi bukan main

Editor:

Komentar