Didin Nasirudin : Donald Trump Masih Bisa Menang

Didin Nasirudin : Donald Trump Masih Bisa Menang Pemerhati Politik Amerika Serikat, Didin Nasirudin

www.hu-pakuan.com JAKARTA - Pemilihan Presiden Amerika Serikat tinggal dua bulan lagi. Mayoritas poling dan prediksi yang dirilis oleh berbagai lembaga poling dan situs prediksi Pilpres AS terpercaya menunjukkan, Donald Trump saat ini tertinggal oleh Joe Biden.

Jika kondisi poling berlanjut hingga November, Trump diyakini akan kalah dengan selisih suara popular dan elektoral yang cukup signifikan.

Tapi banyak lembaga poling dan 'peramal' hasil pilres tidak mengesampingkan kemungkinan Trump terpilih kembali. Bahkan beberapa hasil poling menunjukkan, mayoritas responden yakin Trump akan menang meskipun Biden unggul telak di poling tersebut.

Misalnya poling Pew Research Center yang dirilis 13 Agustus 2020. Biden unggul +8% (53% vs. 45%) atas Trump di poling tersebut, tapi hanya 48% responden yang meyakini Biden akan menang. Mayoritas (50%) responden malah yakin Trump akan terpilih lagi.

Poling Fox New/Beacon Research yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan hasil hampir serupa. Biden unggul 7% (49% vs. 42%), tapi sebagian besar responden (39% vs. 34%) yakin tetangga mereka lebih banyak yang memilih Donald Trump ketimbang Joe Biden.

Mayoritas Presiden AS Memerintah Dua Periode

Politik Amerika Serikat memberi peluang besar bagi presiden petahana untuk terpilih kembali. Sejak negara federasi ini merdeka hampir 250 tahun lalu dan 45 presiden memerintah silih berganti, hanya 5 presiden yang gagal memerintah dua periode: Presiden ke-27 William Taft (1909- 1913), Presiden ke-31 Herbert Hoover (1929 – 1933), Presiden ke-38 Gerald Ford (9 Agustus 1974 – 20 Januari 1977, diangkat menjadi presiden menyusul pengunduran diri Richard Nixon akibat skandal Watergate), Presiden ke-39 Jimmy Carter (1977 – 1981) dan Presiden ke-41 George HW Bush atau George Bush senior (1989-1993).

Kecuali Taft yang berkuasa satu periode karena maju di periode kedua sebagai capres independen, keempat capres di masa lalu gagal terpilih kembali terutama karena kondisi ekonomi negara yang amburadul akibat resesi atau perang. Hoover adalah presiden berkuasa ketika AS mengalami resesi ekonomi terburuk sepanjang sejarah yang dikenal dengan Great Depression. Saat itu angka pengangguran mencapai 25%. Gerard Ford juga menghadapi pengangguran yang terus meningkat, inflasi yang mencapai dua digit, bursa saham yang anjlok parah dan pasokan BBM yang tidak menentu selama pemerintahannya.

Carter mengakhiri masa pemerintahan dengan situasi perekonomian AS yang mengkhawatirkan: angka pengangguran hampir 8% dan inflasi mencapai 13,5%. Bush senior menjadi presiden satu periode lantaran Perang Teluk I yang berkepanjanngan membuat ekonomi dalam negeri AS memburuk dengan angka pengangguran di akhir periodenya mencapai 7,8% dan inflasi 4,5%.

Skor Misery Index Trump Buruk

Ditinjau dari Misery Index—yakni penjumlahan angka pengangguran dan inflasi—skor di tahun akhir pemerintahan Carter dan Bush senior masing-masing mencapai lebih dari 20% dan 10%, alias di atas skor rata-rata 9,22% sepanjang 50 tahun terakhir. Sejarah membuktikan, presiden petahana dengan skor Misery Index di atas rata-rata tidak akan terpiilih kembali.

COVID-19 yang mulai memburuk pada kuartal kedua di tahun keempat kepresidenan Trump membuat puluhan juta orang AS kehilangan pekerjaan. Angka pengangguran rata-rata di AS sepanjang April-Agustus mencapai 12,32% sedangkan laju inflasi rata-rata dalam periode yang sama mencapai 0,52%. Ini berarti skor Misery Index pada 4 bulan terakhir mencapai 12,84, lebih buruk dari skor pemerintahan Bush senior. Jadi dilihat dari skor Misery Index, Donald Trump berpeluang menjadi presiden AS ke-6 yang berkuasa satu periode.

Editor: Cepasrob

Komentar