2019, Tol Cisumdawu Ditargetkan Beroprasi

2019, Tol Cisumdawu Ditargetkan Beroprasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat Berupaya Lakukan Percepatan pengerjaan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) terus diupayakan oleh Satuan Kerja proyek pengerjaan Cisumdawu. Proyek tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada 2019 mendatang sebagai salah satu upaya melengkapi jaringan tol Jakarta-Cirebon yang dicanangkan pemerintah pusat.

Bandung, PAKUAN - Percepatan pengerjaan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) terus diupayakan oleh Satuan Kerja proyek pengerjaan Cisumdawu. Proyek tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada 2019 mendatang sebagai salah satu upaya melengkapi jaringan tol Jakarta-Cirebon yang dicanangkan pemerintah pusat.

 

Dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat saat ini pihaknya sedang mengusahakan percepatan pembebasan lahan untuk mempercepat pembangunan konstruksi. Lahan yang menjadi fokus penyelesaian yaitu lahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan beberapa tanah kas desa yang terdapat di Kabupaten Sumedang.

 

"Kita sedang proses penyelesaian administratif, kita juga akan usulkan agar bisa hibah karena sebagian wilayah ataupun tanah yang terkena merupakan lahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri seluas 60,63 hektar di IPDN Jatinangor," kata Iwa kepada wartawan, Senin (13/2/2017).

 

Sehingga menurut Iwa, pihaknya akan melakukan usulan terhadap Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) karena sebagian lahan IPDN yang terkena dampak pembangunan tol tersebut. Diharapkan pengajuan hibah tersebut dapat disetujui sebagai dukungan terhadap proyek nasional ini.

 

Selain mengajukan kepada Kemendagri, pihaknya pun akan melakukan hal serupa kepada Pemerintah Kabupaten Sumedang terkait pembebasan lahan milik kas desa. Iwa menjelaskan ada tiga tanah kas desa yang terkena dampak dari pembangunan tol ini, yakni desa Cilayung seluas 320 meter, desa Mekarsari seluar 5.536 meter, dan Desa Margaluru 176 Meter.

 

""Pembebasan lahan juga kami akan berkoordinasi terkait tanah kas desa dengan Kabupaten Sumedang seluas total lebih dari 6032 meter persegi," ujarnya.

 

Sebagai kompensasi, lanjut iwa nantinya akan ada lahan pengganti yang akan diberikan oleh pemerintah pusat di desa lain. Bahkan bisa saja lebih luas lagi menyesuaikan pada nominal penggantian harga tanah di desa tersebut.

 

Ia menargetkan proses pembebasan lahan ini akan dirampungkan pada akhir Februari ini. Hal tersebut dikarenakan lahan lain yang notabene merupakan lahan milik unsur pemerintahan tidak akan menyulitkan dalam pembebasan lahan ini.

 

"Mudah-mudahan kita bisa selesaikan administrasinya di akhir Februari," ucapnya.

 

Percepatan ini diperlukan, karena setelah pemebebasan lahan ini selesai akan segera dilakukan pengerjaan konstruksi pada sesi satu. Terlebih saat ini menurut Iwa pembebasan lahan pada sesi satu ini baru mencapai 37 Persen.

 

Sementara dari data yang dimiliki Iwa, pembangunan pada sesi dua fase satu sepanjang 6,3 kilometer yang sudah mencapai 83,31 persen. Begitupun pada fase dua hingga januari 2017 dengan panjang pengerjaan 10,1 kilometer progresnya baru 2,35 persen

 

Untuk diketahui pembangunan Tol Cisumdawu ini dikerjakan dalam enam seksi. Seksi satu dan dua sepanjang 12,025 kilometer dan 17, 05 kilometer yang dalam pembangunannya menggunakan dana APBN serta pinjaman dari pemerintah Cina yang diharapkan beroperasi pada Oktober 2019.

 

Berbeda dengan seksi satu dan dua, seksi tiga sampai enam sepanjang 32,8 kilometer ditargetkan selesai lebih cepat yakni April 2019.

 

"Seksi tiga sampai enam lebih cepat karena akan dibangun oleh badan usaha jalan tol (BUJT) sehingga diminta harus lebih cepat selesai," ujarnya.

 

Kemudian Iwa mengemukakan, Proyek strategis yang memiliki panjang 61,1 Kilometer ini nantinya diharapkan akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, meningkatkan kapasitas jalan, melengkapi akses jalan tol Jakarta-Cirebon. Nantinya juga Jalan tol ini akan terkoneksi langsung dengan Bandara Kertajati, serta sebagai jalur alternatif Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang dan sebagai solusi kemacetan yang terjadi di wilayah pendidikan Jatinangor-Tanjung Sari.

 

Editor: Asep Robin

Komentar