Opini

UN dan Pendidikan Karakter

Dirilis oleh Jemmy pada Kamis, 14 Apr 2011
Telah dibaca 1355 kali

Saat ini sekolah tengah sibuk dengan berbagai persiapan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2010/2011. UN sebenarnya adalah hal yang rutin diikuti setiap tahun oleh sekolah. Jadi, biasanya persiapannya juga tidak akan akan jauh berbeda. Hanya yang saat ini ada perubahan adalah berkaitan dengan mekanisme kelulusan siswa dimana kelulusan siswa 60% ditentukan oleh nilai Ujian Nasional (UN) dan 40% ditentukan oleh nilai Ujian Sekolah (US) dan nilai rapor. Peserta didik dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata mencapai paling rendah 5,5 dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0. Hal Itulah yang perlu disosialisasikan pihak sekolah kepada para siswa.

Perubahan mekanisme kelulusan tersebut setidaknya menjadi jawaban dan upaya perbaikan yang dilakukan pemerintah terhadap berbagai kritik yang menyatakan UN walaupun menjadi salah satu syarat dari empat syarat kelulusan. Tetapi UN dapat memveto tiga syarat yang lain yanki (1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran, (2) memeroleh nilai baik pada pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan, (3) lulus ujian sekolah.

Sekolah dan orang tua tentunya berharap siswa atau anaknya lulus UN. Dalam menghadapi UN, sekolah melakukan berbagai persiapan. Antara lain, melakukan pengayaan, jam belajar tambahan, bahkan doa bersama. Dengan kata lain, selain persiapan teknis, sekolah pun menyiapkan mental siswanya. Selain itu, untuk menunjang persiapan UN di sekolah, sebagian orang tua memasukan anak-anaknya ke lembaga bimbingan belajar.

Walaupun berbagai persiapan telah dilakukan, tetap saja muncul kekhawatiran ada siswa yang tidak lulus. Masalahnya, kelulusan tidak bisa dimungkiri berkaitan dengan harga diri sekolah dan harga diri daerah sehingga substansi UN telah bergeser dari tujuan awalnya untuk kepentingan akademik menjadi kepentingan politis. Oleh karena itu, kita sering mendengar berbagai kecurangan dalam pelaksanaan UN. Dan karena mental yang tidak siap, kita sering juga mendengar ada siswa yang tidak lulus melakukan bunuh diri.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam perspektif pendidikan karakter, UN bisa dijadikan sarana untuk mendidik karakter siswa, antara lain:

Pertama, ulet dan sungguh-sungguh. Hasil yang baik akan ditentukan oleh sejauhmana keuletan seseorang dalam melakukannya. Jika dia melakukannya asal-asalan atau asal jadi, maka hasilnya juga pasti tidak akan optimal.

Kedua, disiplin, kerja keras, dan menghargai waktu. Sebuah kesuksesan butuh kedisiplinan dan kerja keras. Tidak ada keberhasilan yang dicapai dengan berpangku tangan. Sukses tidak datang dengan sendirinya. Sukses butuh cucuran keringat dan pengorbanan. Orang yang suka bekerja keras tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu.

Ketiga, inisiatif dan kreatif. Seseorang yang ingin sukses tidak terlalu bergantung kepada arahan pihak lain. Dia akan memiliki inisiatif dan kreativitas. Dia merasakan sukses sebagai suatu kebutuhan bukan paksaan dari pihak lain. Begitupun siswa yang ingin sukses menghadapi UN, dia akan memiliki inisiatif dan kreativitas untuk mau belajar baik sendiri-sendiri maupun secara berkelompok.

Keempat, kerjasama. Di samping sebagai individu, manusia juga adalah makhluk sosial yang memerlukan bantuan orang lain ketika menghadapi kesulitan. Siswa mungkin saja menghadapi kesulitan ketika belajar sendiri, oleh karena itu dia perlu untuk meminta bantuan guru atau teman-temannya untuk menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya. Sifat kerjasama akan menanamkan kepada siswa untuk mau saling membantu karena kesuksesan yang hakiki adalah ketika seseorang bisa bermanfaat bagi yang lainnya.

Kelima, tanggung jawab. Dalam persiapan UN, biasanya guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari buku-buku latihan soal UN. Buku tersebut selain digunakan untuk pengayaan di sekolah, juga diminta untuk dipelajari siswa di rumah. Oleh karena itu, siswa perlu untuk memiliki rasa tanggungjawab untuk mengerjakan soal-soal latihan tersebut.

Keenam, optimis dan percaya diri. Islam mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam menghadapi masalah atau mengerjakan suatu tugas. Optimisme menjadi tenaga yang luar biasa bagi seseorang dalam mencapai kesuksesan. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Sebuah pepatah Arab mengatakan man jadda wajada yang artinya barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan mencapai apa yang dia inginkan, dan Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya mengingatkan tentang pentingnya niat karena segala pekerjaan tergantung kepada niatnya.

Ketujuh, jujur. UN selalu diwarnai oleh penyimpangan. Antara lain tersebarnya kunci jawaban di kalangan siswa walaupun kadang-kadang kunci jawaban palsu. Oleh karena itu, sifat jujur sangat penting untuk ditekankan kepada siswa. Jangan sampai untuk mengejar kelulusan, dia mengorbankan kejujuran. Prestasi yang dicapai dengan mengorbankan kejujuran tentunya akan tidak akan bermakna dan membanggakan, justru akan membohongi diri sendiri.

Kedelapan, tawakal. Ketika semua usaha atau persiapan UN sudah dilaksanakan, maka kita tinggal berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Kita sebagai manusia hanya bertugas untuk mengoptimalkan ikhtiar, hasilnya kita serahkan kepada Allah. Semua usaha yang dilakukan akhirnya bermuara kepada takdir dan ridha Allah. Hanya, kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik kepada kita, dan Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya.

Itulah delapan nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan kepada siswa sebagai bahan untuk menyiapkan mental siswa menghadapi UN sehingga UN tidak dianggap sebagai beban tetapi sebagai jalan yang perlu ditempuh untuk menggapai kesuksesan. UN bukan hanya berkaitan dengan bagaimana siswa menjawab sejumlah soal tetapi juga berkaitan dengan mentalitas dan karakter siswa saat menghadapi UN. Wallahu a'lam.

  • Cep Asrob
  • Profile

KONFLIK SBY DAN ANAS TERUIS BERLANJUT KE SEMUA SEKTOR  GERAK PARTAI

...........Duuuuuuh cape deh, kapan mikirin rakyatnya ........???

WALIKOTA BANDUNG RIDWAN KAMIL  HANYA PERLU 300 PNS YG MAU  KERJA KERAS,KERJA CERDAS, KERJA TUNTAS DAN KERJA IKHLAS.

.............Tenaaaaaaaaaang Mang RK , Masih Banyak  Warga Bandung yg mau berjuang

Lainnya

Asep Sunandar Sudah Mendalang Dari Umur 14 Tahun

asep_sunandar.jpg

Bandung (PAKUAN) - Almarhum Asep Sunandar meninggal di usia 59 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Nenah Hayati, 14 orang anak, dan 11 orang cucu. Atas jasa, kerja keras, dan pengabdiannya terhadap seni wayang golek, dia berhasil memperkuat icon wayang golek di Jabar. Asep Sunandar merupakan anak ke tujuh dari 13 bersaudara dari ayahnya yang bernama Sunarya. Pria kelahiran 3 September 1955 tersebut, adalah dalang kondang yang kerap keliling dunia untuk memperkenalkan...

Lainnya

Opini

KESENIAN BENJANG

BENJANG.jpg

KAB.BANDUNG (PAKUAN) - Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang hidup dan berkembang di sekitar Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung hingga kini. Dalam pertunjukannya, selain mempertontonkan ibingan (tarian) yang mirip dengan gerak pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian yang mirip gulat. Seperti umumnya kesenian tradisional Sunda yang selalu mempergunakan lagu untuk mengiringi gerakan-gerakan pemainnya, demikian pula dalam seni benjang,...

Lainnya

Pengunjung

http://buytramadol50mghclonline.com
[Valid RSS]