Opini

Macet membuat stress

Dirilis oleh FACHRURROZY PULUNGAN pada Jumat, 08 Apr 2011
Telah dibaca 584 kali

Macet lagi, macet lagi… grutu sorang penumpang angkot yang  mopem dia tumpangi terjebak dan terkurung kemacetan lalu lintas di jalan Monginsidi . Kemacetan bukan barang aneh lagi di kota Medan ini. Setiap hari pemandangan seperti ini dapat kita saksikan di kota-kota besar di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota negri ini sudah mengalami kelumpuhan. Medan yang menuju kota Metropolitan ini pun sebentar lagi akan mengalami hal yang sama seperti Jakarta, jika tidak  ditangani secara serius dan sungguh-sunguh oleh pemerintah .

Tidak seimbangnya panjang dan lebar jalan dengan jumlah kenderaan yang melintasinya, bisa ditunjuk sebagai pemicu terjadinya kemacetan lalu lintas. Betapa tidak, kalau setiap kilometer ruas jalan  rasionalisasinya dimuati sekitar 30 kenderaan, tetapi yang terjadi melebihi jumlah itu, maka yang terjadi adalah penumpukan kenderaan. Apalagi saat ini kesempatan kredit pemilikan kenderaan bermotor gencar dijajakan dengan fasilitas kredit yang mudah dan murah. Dari produk mobil mewah sampai produk kelas bawah disodorkan oleh para agen. Dan akibatnya, kita bisa lihat betapa di hampir setiap jalan-jalan protokol, terutama saat jam-jam pergi dan pulang kerja serta saat jam makan siang, Medan dihiasi kemacetan lalu lintas.

Dari sudut ilmu kejiwaan, ternyata kemacetan lalu lintas dapat menimbulkan perubahan sikap atau kepribadian seseorang. Sebuah contoh kasus yang pernah terjadi, seorang pengemudi mobil harus berurusan dengan pengadilan, karena memukul pengendara sepeda motor yang berada dibelakngnya. Tak senang, pengandara yang dipukul mengadu dan sampailah kasus itu ke pengadilan. Semua itu terjadi disebabkan kemacetan lalu lintas. Masalahnya sangat sepele. Ketika kemacetan terjadi, kendaraan yang berada dibelakang membunyikan klakson berulang-ulang, yang maksudnya agar yang di depan maju. Sementara yang berada di depan tidak bisa bergerak. Merasa terganggu suara bising klakson, sang supir emosi dan turun lalu memukul.

Kasus lainnya, seorang teman yang bekerja pada sebuah perusahaan swasta berubah sikapnya. Selama ini ia dikenal sebagai bos yang selalu ramah dengan kata-kata manis menyapa para staf nya. Tapi belakangan ia dikenal sebagai orang yang sedikit keras, dan suka marah. Lebih kentara lagi ketika ia pulang dari tempatnya bekerja, ia tidak lagi kelihatan ramah. Waktu saya menanyakan perubahan sikap yang ada pada teman saya itu, ia menyatakan bahwa belakangan ini omset penjualan perusahannya menurun tajam. Penyebabnya katanya, karena ia selalu terlambat menyampaikan proposal dan pengiriman barang. Semua itu disebabkan arus lalu lintas yang macet, yang membuat nya bisa lebih dari satu jam dikurung kemacetan. Karena selalu terlambat, maka mitra kerjanya mengalihkan pekerjaan yang salama ia tangani, diberikan kepada pihak lain. “ Kesal nggak? Mau marah saja aku, tapi marah sama siapa?” katanya.

Hal serupa juga beberapa kali saya alami, terjebak di kemacetan lalu lintas. Waktu itu saya hendak memberikan pengajian. Waktu saya tinggal lima belas menit lagi harus sampai ketempat pengajian diadakan. Tetapi apa lacur, kemacetan membuat saya berpeluh keringat, bukan cuma karena terik matahari yang menyengat, tetapi telepon yang terus berdering di mobile saya menanyakan keberadaan saya, karena jamaah sudah menunggu, ditambah asap knalpot beca mesin dan klakson kenderaan membuat suasana hingar bingar dan udara semakin sumpek.  Sama seperti teman saya itu, ingin marah… tapi kepada siapa…?

Itulah beberapa kasus yang memperlihatkan keseriusan bahaya yang ditimbulakan oleh kemacetan lalu lintas di kota-kota besar yang penataannya tidak dikelola dengan baik. Orang-orang gampang menjadi jengkel, marah yang dapat menimbulkan stres.  Jika kebiasaan-kebiasaan perasaan itu berjalan terus menerus, maka hal itu bukan tidak mungkin menjadi suatu kepribadian (sikap). Bayangkan bila hal itu terjadi, terlebih lagi jika sikap itu dibawa ketengah-tengah keluarga, akibatnya akan fatal. Boleh jadi anak, istri, menantu, mertua, cucu yang tidak tahu apa-apa menjadi sasaran empuk kejengkelan dan kemarahan.

Kalau kita kaitkan dengan persoalan produktifitas pun, ternyata kemacetan punya dampak yang serius, karena waktu  kita banyak terbuang di tengah jalan tanpa berbuat apa-apa. Yang jelas kemacetan juga menimbulkan kelelahan fisik. “Kalau kondisi fisik sudah capek, lelah, yang berbaur dengan kejengkelan dan kemarahan, bagaimana bisa konsentrasi pada pekerjaan?”,  kata salah seorang teman yang menjadi pegawai di salah satu pemerintahan kota Medan. Jika  sudah demikian maka produktifitas keraja pasti menurun, pelayanan masyarakat di pemerintahan pun juga ikut menurun. Karena sebagian besar pegawai  naik kenderaan pribadi, dan untuk menghindari kemacetan, mereka masuk kantor di atas jam kerja yang sudah ditentukan. Kalau sudah semuanya menurun, bagaimana kota Medan bisa menjadi kota metro politan yang dapat bersaing dengan kota-kota besar lainnya?

Harian Waspada ini sudah berulang-ulang memberitakan tentang kemacetan yang terjadi di berbagai jalan protokol, tapi pemerintah, Walikota dan perangkatnya (Dishub) sepertinya tutup mata. Seandainya Walikota dan perangkatnya mau jalan-jalan pada jam-jam sibuk (pick hours) tanpa diiringi forriders, maka akan terbuka mata untuk menanggulangi kemacetan arus lalu lintas yang sangat mengganggu. Kemacetan itu tidak cuma terjadi di jalan Perintis Kemerdekaan, atau di jalan Tamrin, jalan HM. Yamin simpang Sutomo, Monginsidi saja, tetapi di berbagai jalan-jalan lain.

Ada beberapa solusi yang mungkin bisa dijadikan masukan untuk menanggulangi kemacetan arus lalu lintas kedepan. Pertama, mengurangi batas jumlah kenderaan yang melintasi dengan tidak membenarkan mobil-mobil pembuatan tahun 1981 kebawah melintasi jalan-jalan protokol. Kedua, membuat jalur khusus bagi angkutan kota yang hampir seluruh supirnya tak punya etika berkenderaan. Ketiga, menambah jalan-jalan tembus baru, dan membuat jembatan layang pada jalur lintas kreta api. Keempat, membuat jalur parkir kenderaan sebelum memasuki  inti kota, sehingga orang hanya boleh berjalan kaki .

Inilah salah satu pekerjaan rumah (PR) Walikota Medan dan Wakilnya, agar warganya tidak menjadi orang-orang yang stres. Juga bagi masyarakat pengguna jalan yang mengendaraai kenderaan bermotor  untuk ikut langsung berperan sebagai pengandara yang baik. Tidak saling menyerobot, saling menikung yang pada gilirannya  membuat arus lalu lintas menjadi padat berlapis, kemudian macet dan kita pun stress.

Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Keagamaan

  • Cep Asrob
  • Profile

KONFLIK SBY DAN ANAS TERUIS BERLANJUT KE SEMUA SEKTOR  GERAK PARTAI

...........Duuuuuuh cape deh, kapan mikirin rakyatnya ........???

WALIKOTA BANDUNG RIDWAN KAMIL  HANYA PERLU 300 PNS YG MAU  KERJA KERAS,KERJA CERDAS, KERJA TUNTAS DAN KERJA IKHLAS.

.............Tenaaaaaaaaaang Mang RK , Masih Banyak  Warga Bandung yg mau berjuang

Lainnya

Asep Sunandar Sudah Mendalang Dari Umur 14 Tahun

asep_sunandar.jpg

Bandung (PAKUAN) - Almarhum Asep Sunandar meninggal di usia 59 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Nenah Hayati, 14 orang anak, dan 11 orang cucu. Atas jasa, kerja keras, dan pengabdiannya terhadap seni wayang golek, dia berhasil memperkuat icon wayang golek di Jabar. Asep Sunandar merupakan anak ke tujuh dari 13 bersaudara dari ayahnya yang bernama Sunarya. Pria kelahiran 3 September 1955 tersebut, adalah dalang kondang yang kerap keliling dunia untuk memperkenalkan...

Lainnya

Opini

KESENIAN BENJANG

BENJANG.jpg

KAB.BANDUNG (PAKUAN) - Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang hidup dan berkembang di sekitar Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung hingga kini. Dalam pertunjukannya, selain mempertontonkan ibingan (tarian) yang mirip dengan gerak pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian yang mirip gulat. Seperti umumnya kesenian tradisional Sunda yang selalu mempergunakan lagu untuk mengiringi gerakan-gerakan pemainnya, demikian pula dalam seni benjang,...

Lainnya

Pengunjung

http://buytramadol50mghclonline.com
[Valid RSS]