Kekeliruan Pada Pembongkaran Kelas SDN 062 Ciujung

Kekeliruan Pada Pembongkaran Kelas SDN 062 Ciujung

Kota Bandung, hu-pakuan.com - Tim Cagar Budaya Kota Bandung memprotes adanya pembongkaran empat ruang kelas SDN 062 Ciujung, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Hal itu dikarenakan bangunan SDN tersebut masuk dalam klasifikasi cagar budaya golongan A sehingga tidak boleh dibongkar atau diubah. 

Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Sekolah Dasar (PPSD) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung, Dani Nurahman mengatakan pihaknya tidak mengetahui bahwa SDN 062 Ciujung adalah Cagar Budaya.

Sehingga saat menerima usul "penghapusan" dari pihak Kepala Sekolah, Disdik langsung menindaklanjutinya kepada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPKA) dan Dinas Tata Ruang (Distaru), untuk mengurus segala prosedur dan hitungan ekonomis dalam pembongkaran gedung milik Pemkot Bandung tersebut.

"Bukan bermaksud menyalahkan siapapun, faktanya sampai hari ini kami Dinas Pendidikan tidak tahu dan tidak pernah diberi tahu. Tidak pernah ada edaran yang menyatakan bahwa bangunan itu adalah bangunan cagar budaya," ujar Dani beberapa waktu lalu.

Dani menjelaskan, beberapa ruang kelas di sekolah tersebut memang sudah sangat mengkhawatirkan dan membahayakan keselamatan para guru dan siswa. Sehingga ia menyetujui usul Kepala Sekolah yang ingin menambah ruang kelas diatas bangunan yang sudah ada.  

"Menurut laporan dari pihak sekolah, ada pohon beringin dan akar-akarnya sudah masuk struktur dinding dan lantai sehingga membuat keretakan di beberapa kelas sekolah tersebut," tuturnya.

Bahkan, lanjut Dani, Kepala Sekolah mengaku sebelumnya sudah berkoordinasi dan bertanya secara lisan kepada Disbudpar perihal bangunan tersebut. 

"Katanya, dianggap bukan bangunan cagar budaya. Sehingga sekolah membuat usulan ke kami untuk dihapuskan," ungkapnya.

Dani mengaku heran dengan protes yang dilakukan oleh Tim Cagar Budaya, karena pada tahun 2016 silam sempat ada kelas di SDN 062 Ciujung yang juga dibongkar, namun saat itu tidak ada yang mempermasalahkan.

"Kalau yang sekarang kan yang disisi jalan Supratman, tahun 2016 yang menghadap ke Ciujung dan lapangan futsal, tidak ada yang mempermasalahkan itu," katanya.

Agar masalah ini tidak berkepanjangan, Dani menyebut pada Selasa (1/10/19) pekan depan, Disdik akan menggelar rapat kembali bersama Disbudpar Kota Bandung.  

Ia juga tak lupa meminta maaf atas ketidaktahuan Disdik mengenai bangunan tersebut masuk dalam cagar budaya. Dani memastikan, Disdik sangat peduli dan menghargai setiap cagar budaya yang ada di Kota Bandung.

"Manakala kemarin bangunan itu rusak, mereka (Tim Cagar Budaya) yang berkepentingan pada kemana? nilai lebihnya apabila kami dikasih tahu sebelumnya kita bisa memilah memilih dan hati-hati dalam melakukan pembangunan," pungkasnya.

Masalahnya, kata Harastoeti, pihak sekolah malah bertanya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat. Ia tak mempermasalahkan ketidaktahuan pihak sekolah bahwa bangunan yang mereka tempati dan gunakan adalah Cagar Budaya. Namun ia menyayangkan kenapa pihak sekolah bertanya kepada provinsi, bukan ke Disbudpar Kota Bandung yang memang mempunyai daftar lengkap terkait bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung.

"Dikatakan Disparbud bukan Cagar Budaya, jadi ada sedikit miss-nya disitu. Seharusnya mungkin bukan ke Disparbud menanyakannya, tapi ke Disbudpar, karena yang punya list bangunan itu Disbudpar. Jadi dengan informasi bangunan itu bukan Cagar Budaya, maka sekolah melakukan  pembongkaran, ini yang saya dengar begitu ya karena memang ketidaktahuan. Tapi masalah bongkar membongkar ada aturannya, tidak asal," tuturnya.

Menurut Harastoeti, seharusnya ada yang dikenai sanksi karena pembongkaran bangunan Cagar Budaya ini melanggar peraturan daerah Nomor 19 Tahun 2018 yang mengatur tentang cagar budaya. Namun ia memaklumi karena menurutnya banyak masyarakat yang belum mengetahui perda yang baru direvisi tersebut.

"Sanksinya untuk yang membongkar. Masa tidak tahu prosedur mendirikan bangunan? apalagi sudah ada arsiteknya. Arsiteknya harus memberi tahu, izin membangun di Kota itu harus ke Kota, bukan ke Provinsi, salah sebetulnya ini," ujarnya.

Selain itu, ia mendengar "kekeliruan" atau pembongkaran tanpa izin ini berawal dari pihak SDN 062 yang ingin memperluas bangunannya untuk kebutuhan kelas.

"Jadi akan ditingkatkan dua lantai, walaupun saya sendiri belum lihat desainnya. Mungkin bangunan lama ini kan kuno, jelek barangkali menurut pandangan atau pendapat masyarakat. Karena memang sudah lama, cagar budaya pasti sudah tua bangunannya, jadi ada selera juga ini yang main, kepengen bangunan modern barangkali begitu ya, sehingga terjadilah "kecelakaan" ini artinya pembongkaran yang tanpa izin. Nah itu yang ada keliru itu disana, " jelasnya.

Karena ini sudah terjadi, lanjut Harastoeti, maka sesuai perda bangunan itu harus segera dipulihkan dan diselamatkan, meski tidak semua bagian karena SDN 062 Ciujung termasuk golongan B.

"Ini juga saya belum menemukan solusi yang pas untuk ini, karena baru kemarin dirapatkan," tambahnya.

Terkait keheranan Disdik Kota Bandung dengan protes yang dilakukan oleh Tim Cagar Budaya, karena pada tahun 2016 silam ada juga kelas di SDN 062 Ciujung pernah dilakukan pembongkaran namun saat itu tidak ada yang mempermasalahkan, Harastoeti malah bertanya balik di bagian mana yang diperbaiki tersebut.

"2016 Bagian itu bagian yang mana ya? (Penyiar PRFM Jawab bagian belakang-Red) kalau bagian belakang barangkali ga gitu, keliatan dari depan ya, dan lagi seandainya pun itu harus dilestarikan tentu tidak semua seluruhnya," tuturnya.

Menurut Harastoeti, agar perkembangan sekolah tidak terhambat, maka tidak seluruhnya isi dari bangunan sekolah tersebut harus dilestarikan, sehingga ia akan melihat dari prioritas.

"Jadi nanti kami akan lihat, kira-kira bagian mana saja yang perlu dikembalikan seperti semula, bagian mana saja yang harus dibongkar dan dibagian mana saja yang boleh dibangun baru. Tidak semua bangunan cagar budaya itu perlakuannya sama, masing-masing punya karakter dan ciri khas yang berbeda dengan bangunan lain," pungkasnya.

Editor: Cepasrob

Komentar