Massa Jabatan Oded Yana Terhadap Penataan Kota Bandung Belum Jelas

Massa Jabatan Oded Yana Terhadap Penataan Kota Bandung Belum Jelas

WALI Kota Bandung Oded M Danial mewarni gambar mural pada kegiatan Bazar Sampah Kelurahan Babakan Penghulu, bertempat di Kampung Bebedahan, RW 2, Kelurahan Babakan Penghulu, Kecamatan Cinambo, Kota Bandung, Sabtu 16 Maret 2019.*/RETNO HERIYANTO/PR

BANDUNG, (PR).- Anggota DPRD Kota Bandung dari fraksi Partai Demokrat Aan Andi Purnama menilai, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial dan Yana Mulyana belum memiliki konsep yang matang dalam pemecahan berbagai masalah.

Permasalahan yang dimaksud di antaranya adalah kemacetan, banjir, kesenjangan ekonomi, pelayanan publik, dan sampah. Padahal, kelima aspek tersebut merupakan visi dan misi kepemimpinan Oded M Danial dan Yana Mulyana.

"Dari kelima aspek, saya belum melihat konsep yang jelas untuk memecahkan persoalan tadi," kata Aan Andi Purnama dalam wawancara yang disiarkan Radio PRFM, Jumat, 20 September 2019.

Dalam hal megatasi kemacetan, kata dia, Pemkot Bandung belum mempunyai konsep yang jelas. Pembangunan dua jalan layang baru di perempatan Jalan Jakarta, menurut dia, bukan inisiasi Pemkot Bandung tetapi Pemprov Jabar.

"Sekarang yang dikerjakan flyover di Jalan Jakarta itu dari pemerintah provinsi, konsep dari Kota Bandung belum ada," katanya.

Pun demikian terkait banjir. Aan Andi Purnama mengatakan, saat ini titik banjir di Kota Bandung meluas. Contohnya, di kawasan Bandung Utara seperti Pasteur dan Setiabudi yang tadinya bukan kawasan banjir, saat ini sudah menjadi daerah langganan banjir.

Sejumlah program untuk mengatasi banjir seperti program drumpori dan pembuatan danau retensi dinilai belum maksimal.

"Konsep pemecahan masalah banjir belum terlihat sedangkan aliran-aliran dari sungai, pengerukan sampah itu tidak dilanjutkan. Hal ini akan tidak maksimal. Drumpori juga perlu kajian terkait efektifitasnya," katanya.

Soal sampah, Aan Andi Purnama mengatakan, program Pemkot Bandung yaitu Kang Pisman (Kurangi Pisahkan Manfaatkan) butuh waktu untuk diimplementasikan karena mengubah kedisiplinan masyarakat memilah dan memilih sampah tak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

"Fasilitas atau infrastruktur untuk program Kang Pisman juga perlu dipertanyakan apakah sudah maksimal? Relawan kebersihan yang memberi sosialisasi kepada masyarakat juga belum terlihat," ujarnya.

Sementara dalam hal ekonomi, kata dia, di Bandung banyak berdiri UMKM. Namun hanya sedikit yang aktif. Ia mendorong Pemkot Bandung membenahi UMKM.

"Ada ribuan UMKM tapi yang aktif hanya sekian, karena koperasi dibentuk bukan hanya untuk kebutuhan tapi ingin membuat satu wadah untuk pinjaman. Kesadaran masyarakat tentang koperasi masih minim, pembuatan koperasi harus didasarkan pada kesadaran dan kebutuhan masyarakat," katanya.

Editor: irsyad

Komentar