PP Kota Bandung Berkomitmen Akan Berperan Aktif Dalam Pembanguana Kota

PP Kota Bandung Berkomitmen Akan Berperan Aktif Dalam Pembanguana Kota
Kota Bandung, PAKUAN - Janji calon pemimpin seringkali manis, namun pahit dalam implementasi. Ketika calon pemimpin terpilih, seringkali melupakan janji yang pernah diucapkannya. Bahkan ketika ditagih, 1001 alasan dilontarkan untuk menghindari kewajiban menepatinya.
Perilaku pemimpin seperti ini, memicu lahirnya ketidakpuasan di masyarakat. Masyarakat menjadi tidak percaya kepada pemerintah. Sementara pemerintah seakan tak peduli kepada masyarakat, dan menjalankan pembangunan tidak  sesuai aspirasi masyarakat.
"Maraknya aksi demontrasi merupakan menunjukan tidak efektifnya kanal aspirasi dan wujud  kekecewaan masyarakat terhadap pembangunan yang tidak aspiratif," kata Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila (PP) Kota Bandung, Yayan Suherlan yang ditemui dikediamannya di Kota Bandung, Kamis (7/2/2019).
Menurut Yayan, era demokrasi, selain memberikan efek positif terhadap kebebasan dan kesetaraan hak dalam pembangunan, juga menunjukan dimensi negatifnya. Demokrasi menjadi panggung adu kekuatan, pemerintah vs masyarakat, masyarakat vs masyarakat.
"Persatuan dan kesatuan berada dititik nadir, ketika kondisi ini terus meruncing," jelas Yayan.
'Adu kekuatan' semakin jelas ketika memasuki tahun-tahun politik. Seperti yang terjadi jelang pilpres 2019 ini, masing-masing kubu saling serang. Dan lebih tajam ketika hal itu terjadi ditingkat grassroot.
"Tidak tampak adu gagasan, yang terjadi adalah saling serang dan melemahkan. Masyarakat seperti diadu domba. Masyarakat terbelah dan saling berhadapan," kata Yayan.
Kondisi tersebut, lanjut Yayan, seringkali berkepanjangan di masyarakat. Kendati kontestasi telah usai, namun perbedaan pilihan telah melahirkan 'aku vs kau', 'kamu vs kami'. Sementara 'kita' tersingkirkan dalam kehidupan bermasyarakat.
"Indonesia sejatinya ada karena kita, bukan karena 'kamu' atau 'kami', terlebih 'aku' apalagi 'kau'," terang Yayan.
Kondisi tersebut menurut Yayan, dapat diidentifikasi dari sikap pemimpin dalam  pembangunan. Seringkali seorang pemimpin hanya mengakomodir kepentingan kelompoknya. Padahal, ketika menjadi pemimpin, maka dia tidak lagi milik kelompoknya.
Seperti yang terjadi di Pemkot Bandung, di bawah kepemimpinan Wali Kota Bandung Oded M Daniel. Menurut Yayan, Pemkot Bandung kehilangan sense of crisis dalam menyikapi perbedaan dan kurang peka terhadap kritik dari masyarakat.
"Harusnya pemerintah lebih memiliki sence of crisis, dan mengoptimalkan komunikasi untuk mencapai win win solution dalam pembangunan," kata Yayan.
Pembangunan kota Bandung, kata Yayan, kurang memperlihatkan keadilan. Tidak saja kepada warga kota Bandung, tetapi juga pada kondisi alam dan lingkungan.
Pembangunan yang tidak ramah lingkungan, alih fungsi lahan yang tak terkendali mengakibatkan bencana alam yang merugikan sosial ekonomi masyarakat.
"Demikian halnya reformasi birokrasi hingga kini hanya menjadi wacana dan lips service belaka," tegas Yayan.
Menyikapi kondisi tersebut, Yayan sebagai Ketua MPC PP Kota Bandung berkomitmen untuk berperan aktif dan produktif dalam pembangunan di Kota Bandung.
Sebagai salah satu ormas dengan basis massa yang cukup besar, Yayan ingin menampilkan Pemuda Pancasila Kota Bandung lebih santun, menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan akhlak mulia. Sehingga dapt merubah imaje bahwa pemuda pancasila kota Bandung tidak hanya kuat otot dan kuantitas anggotanya yang banyak tetapi didukung juga oleh kualitas dalam setiap kiprah dan langkah perjuangannya.
"Untuk itu MPC Pemuda Pancasila kota Bandung siap menjadi partner sekaligus mitra pembangunan yang tidak hanya mampu dan gagah dalam kuantitas tapi juga kualitas," pungkas Yayan.

Editor: Asep Robin

Komentar